Tuesday, July 22, 2008

Anak


23 Juli. Tulisan ini diawali dengan salam buat anak-anak Indonesia: Semoga kalian dapat tumbuh dan berkembang maksimal sesuai kemampuan dan harapan kalian! Ini pasti juga jadi harapan untuk anak saya, Vay (18 bulan).
Satu hal yang jadi keinginan saya adalah mewujudkan tempat bermain untuk anak. Dimana disana Vay bisa mengekplorasi banyak hal. Kondisi idealnya sih, mengacu ke rumah Kak Seto atau Jurank Dik Doank, mimpi kali yee. Tapi tetap berharap saja, Amin, mudah-mudahan terwujud. Syukurlah, meski tanpa halaman dan dengan keterbatasan ruang di rumah yang saya dan suami tempati, kami masih memiliki ruang bermain. Kesepakatan kami, ada satu ruang yang harus steril dari benda-benda yang tidak atau kurang berguna buat anak saya, atau buat keponakan-keponakan jika main ke rumah. Ruangan ini tidak besar, hanya ada dua kotak wadah tempat mainan, rak buku, kursi anak, whiteboard, tv dan pemutar vcd, serta komputer. Disana anak-anak bisa lebih bebas bermain daripada di ruang lain, bahkan saya dan suami harus rela jika dinding ruangan itu penuh coretan, ternyata whiteboard yang ada kurang besar untuk menampung imajinasi mereka. Sampai sekarang kami cukup puas dengan pemanfaatan ruang ini. Kalau ada tamu kecil di rumah kami, ya pasti ngendonnya disini. Senang tentunya melihat Vay belajar mulai dari merayap, merangkak dan berjalan di ruang ini.
Anak-anak pasti tak jauh dari permainan. Salah satu permainan di SD yang masih berkesan buat saya sampai sekarang adalah Gobak Sodor. Waktu itu, saya masih bersekolah di SD Negeri di wilayah Kepulauan Riau. Gedung sekolah itu sederhana, tapi bersih dan cukup kokoh untuk menampung murid-murid kecil di dalamnya. Saya kebagian kelas dengan kondisi separuh ke bawah dindingnya terbuat dari bata, separuh ke atas dari papan. Atapnya terbuat dari seng. Salah satu yang saya banggakan dari sekolah ini adalah halamannya yang sangat luas untuk ukuran tubuh saya yang kecil saat itu. Halaman sekolah ini tentu menjadi tempat murid-murid mengeksplorasi motoriknya. Kalau belum bau keringat dan seragam sekolah masih kering dan bersih, rasanya belum sah sekolah hari itu.Yang membuat saya terkesan dengan Gobak Sodor adalah ketika saya duduk di SD kelas 4 atau 5 (saya lupa tepatnya). Saat istirahat sekolah saya dan beberapa teman bermain gobak sodor. Kami memang terkenal sebagai kelompok anak yang paling menikmati saat-saat keluar main. Sejak pagi, ada saja permainan yang kami rencakan. Kami lebih memilih main daripada jajan di warung dekat sekolah. Alasan lain, karena uang saku yang pas-pasan. Siang itu kami memilih tempat yang agak jauh dari bangunan kelas, supaya lebih seru, bisa berteriak dan berlari sepuasnya. Perkiraan kami, kalau sudah waktunya masuk kelas, kami pasti akan mendengar lonceng tanda masuk. Lonceng di sekolah kami berbentuk tabung yang terbuat dari besi. Dibunyikan dengan cara memukulkan dengan tongkat besi. Teng, teng, teng, teng, tengggg, teng. Ada satu anak yang diberi kepercayaan guru-guru untuk memukul lonceng. Selain karena dia tidak pernah bermain jauh dari kelas juga dianggap punya tenaga yang paling kuat untuk membunyikan. Maklumlah, badannya paling besar di antara murid-murid lain. Entah apa alasannya, anak ini punya niat jelek pada kami, tepat jam masuk kelas, dia membunyikan bel dengan pelan, hanya cukup terdengar olah murid-murid di sekitar kelas saja. Kami baru sadar setelah lelah bermain dan kembali ke kelas, ternyata pelajaran sudah lama dimulai. Tentu saja Guru marah karena kami terlambat, hukumannya siang itu kami di jemur di bawah terik matahari sebelum diperbolehkan masuk kelas kembali.

Saturday, July 19, 2008

Pertama


Kesampaian juga niat saya nge-blog. Sebenarnya ini niat lama, karena saya suka corat-coret dan ketak-ketik membuat tulisan. Mulai dari memo di kantor, white board di rumah, atau harddisk di komputer pinjaman saya manfaatkan. Untung tidak sampai tembok di jalan-jalan, pagar rumah orang, kaca belakang bis di terminal atau bagian belakang bak truk yang sering parkir seenaknya di dekat rumah.

Balik ke nge-blog, dasar malas, ada saja alasannya. Sibuk, capek, tidak ada ide mau nulis apa, takut salah nulis, bahasa yang kacau, pemikiran yang sering tidak runtut, bla..bla..bla…Saya punya 1001 kalimat pendukung. Suami yang hobi nge-blog sudah membuatkan account buat saya 2 tahun yang lalu, teman yang pengajar dan penulis buku blog memberi tips supaya terbiasa menulis, teman kantor yang dulunya tidak doyan menulis berujar “belajar bareng nulis di blog yuk, sepertinya asyik”. Semua lewat.

Walaupun suka, untuk mulai membuat tulisan yang tingkatannya lebih tinggi dari corat-coret di whiteboard, buat saya bukan pekerjaan mudah. Walaupun sama-sama dalam taraf belajar, lebih mudah memasak, karena saya tidak mungkin meninggalkan bahan makanan yang sudah terlanjur diracik dengan alasan bosan atau bingung mau diapakan, mubadzir.

Lupa dari mana, pernah saya dapatkan tips : untuk mulai suatu tulisan bisa diawali dengan hal-hal kecil saja. Misalnya, saat kita sedang mengetik, pasti ada bunyi tuts. Deskripsikan saja bunyi tuts itu secara detail, kan sudah jadi satu cerita sendiri. Mungkin berlaku buat orang lain, belum buat saya sekarang. Buat saya dengar bunyi tuts ya artinya cuma tuk tuk tuk titik. Tapi mungkin akan berlaku juga buat saya nantinya. OK, saya simpan tips ini.

Saya setuju dengan pernyataan : kalau mau lancar menulis, harus rajin membaca. Bayangkan otak kita seperti gelas. Kalau kita rajin membaca gelas itu akan terisi dan terisi air, semakin lama semakin penuh, dan tumpah menjadi tulisan-tulisan. Walaupun saya kurang setuju dengan perumpamaannya, tapi saya setuju dengan maksudnya. Logika saya, kalau saya sudah punya blog dan mulai rutin menulis, mau tidak mau saya harus rajin membaca. Bagus juga, karena sekarang semakin tua semakin sedikit buku yang saya baca. Internet hanya untuk selingan saat pekerjaan kantor tidak menumpuk dan surat kabar sebagai pengantar tidur.

Punya kebiasaan baru, berharap akan ada semangat baru. Terus terang akhir-akhir ini saya mulai jenuh dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Berharap ada hembusan angin yang menyegarkan supaya tidak terbelenggu dengan kebosanan tadi.

Mumpung hasrat menulis sedang muncul sekalian brain gym, nge-blog ah. Supaya semangat menulis tetap terjaga dan untuk memeriahkan tulisan pertama saya diblog, saya iringi dengan lagu “Pertama, kurasakan getaran yang kerap goyahkan rasa serasa ada sentuhan baru sinari hari-hariku…..”